Menyelisik pangsa pasar motor Sport 150cc tahun 2018, segmen paling gurih bagi tiga pabrikan motor tanah air

Bismillah . . .

Selamat malam Guys, salam sejahtera bagi kita semua. Motor sport, bicara motor sport tentu pemikiran kita bakal dihadapkan pada segmen kubikasi 150cc, yaa karena kubikasi mesin segini adalah primadona, dan jadi pilihan ideal untuk para pabrikan dalam melepas ke pasaran produk motor sport jagoan mereka, alias pilihan utama dari pabrikan yang berkompetisi di dalamnya, yang bakal disiapkan untuk head to head dengan produk serupa dari merek yang berbeda. Dan tahun 2018 ini, DJB memprediksi bakalan ada line up produk motor sport terbaru yang mengusung mesin 150cc, sehingga para konsumen bakal punya banyak opsi, mau beli yang mana, atau mungkin mau beralih ke motor sport kah?

Oke Guys. Jika kita telisik lebih dalam, awal mula segmen sport terbentuk pada kubikasi 150cc, tentu kita gak bisa lepaskan dari kehadiran Yamaha V-ixion gen awal di pertengahan tahun 2007 silam. Nah, awal mula kelas sport 150cc tanah air yang dimulai dengan beredarnya V-ixion yang saat itu udah menggunakan teknologi Injeksi untuk pengabutan bahan bakarnya, secara mengejutkan mampu menggeser Honda Megapro yang masih menganut teknologi mesin empat tak karburator yang membawa mesin 160cc sejak tahun 1999, dan nyaris tidak ada saingan berarti dari pabrikan lain dengan kubikasi yang serupa (atau mendekati) dengan Megapro saat itu, hingga akhirnya pada tahun 2007 datanglah penerus Yamaha RX King dalam wujud Yamaha V-ixion 150cc. Pengecualian ada pada Suzuki Thunder 125 yang hadir di pertengahan tahun 2005, namun memang efek persaingannya juga tidak signifikan kala itu.

yamaha-vixion-2007-biru

Pasar motor sport saat itu memang masih bercampur antara motor dua tak dengan empat tak. Kecuali Honda, pabrikan Yamaha saat itu masih memiliki RX King yang hadir sebagai motor kentjang selain Kawasaki Ninja 150 series. Namun waktu itu DJB juga udah berulang kali dengar kabar, bahwasanya motor dua tak gak bakal lama usianya. Maklum faktor emisi gas buang yang lebih tinggi, dan tentu saja motor dua tak saat itu tidaklah mewakili keseluruhan konsumen yang mengidamkan motor sport terutama untuk pemakaian sehari-hari.

Sejarah Perjalanan Honda GL-Pro Hingga Megapro di Indonesia

Nah, kenapa motor dengan kubikasi 150cc ini laris manis, atau setidaknya kenapa ada banyak motor yang dihadirkan oleh pabrikan dengan mengusung volume ruang bakar segini? Kenapa gak 250cc aja biar greget? Lalu bagaimanakah kira-kira pangsa pasar motor Sport tanah air di tahun 2018 ini? DJB coba ambil pendapat dari pengamatan DJB, kali aja kita sepaham dalam melihat fenomena market share motor sport tahun ini.

Pertanyaan yang pertama, kenapa harus Sport 150cc. kenapa gak lebih kecil atau yang lebih besar? Nah, Hal ini tak lain dan tak bukan serta tak jauh dari perhitungan serapan pasar motor tanah air. Motor sport 150cc memang diakui bakal lebih mudah diterima pasar ketimbang yang cc-nya lebih tinggi. Memasuki era empat tak murni (selang setahun sejak Yamaha tidak lagi memproduksi RX King, pabrikan sepertinya memang lebih menyukai memproduksi motor sport dengan mesin 150cc, karena kubikasi segini dianggap ideal untuk bikers tanah air, dan hal itu dibuktikan beberapa tahun kemudian semenjak kehadiran Yamaha V-ixion dengan disusulnya kehadiran motor bebek dan Skutik dari pabrikan Yamaha maupun Honda dan Suzuki, yang datang dengan kubikasi mesin yang mirip. Tercatat Honda menelurkan CB150R StreetFire pada tahun 2012 silam, kemudian mendowngrade Megapro menjadi 150cc juga. serta hadirnya Honda Verza 150 disusul Sonic 150 dan All New CB150R pada tahun 2015 silam. Hal ini semakin diperkuat dengan hadirnya bebek super Honda yakni Supra GTR150 menemani kedatangan Vario 150 eSP tiga tahun silam. Nah, banyak kan yang cc-nya 150, artinya ya inilah yang membuktikan pabrikan memang merasa yakin dengan mesin 150cc untuk pasar Indonesia. Terlebih jika dihitung-hitung dengan rumus ekonomi manapun, menyediakan produk yang sesuai selera pasar sama dengan menyiapkan keuntungan bagi pabrikan dan jaringan bisnisnya hingga ke daerah-daerah.

Di Yamaha pun begitu, setelah V-ixion hadir, lalu ada Byson, kemudian nongol Yamaha Jupiter MX150 dan MX King serta disusul oleh kehadiran Skutik andalan mereka yakni N-Max (pengecualian kubikasi 155cc masih bisalah dianggap mendekati volume mesin motor ideal menurut Pabrikan.

Nah, Suzuki pun juga gak tinggal diam, mereka menghadirkan GSX series sebagai pengisi segmen sport 150cc yang dikuasai oleh Yamaha dan Honda. Akhirnya, tinggal Kawasaki aja yang belum punya motor sport 150cc (kecuali segmen Trail yang diisi oleh Kawasaki KLX150. Lalu Honda makin eksis dengan menghadirkan CRF150L sebagai kompetitornya Kawasaki KLX, artinya apa, pabrikan emang memandang segmen sport 150cc ini ibarat ladang, ini ladang gandum yang dibawahnya juga terdapat tambang emas.

Hasil gambar untuk suzuki gsx s

“Kok tambang emas DJB?” Iya, pabrikan motor tanah air sepakat memandang bahwasanya mesin yang ideal untuk Bikers tanah air ya kubikasi 150cc begini. Dan DJB pun juga mengamini, pengalaman cobain beberapa varian motor sport 150cc baik itu merek Honda, Yamaha dan Suzuki, secara perhitungan daya beli, prasarana jalan, perhitungan pasar dan kompetisi di dalamnya serta takaran biaya perawatan setelah pemakaian beberapa tahun, motor sport 150cc adalah yang paling ideal bagi jutaan Bikers tanah air menurut DJB. Bagaimana dengan motor sport 250cc atau moge? Nah, khusus segmen ini, berhubung mayoritas pemilik motornya adalah kalangan pehobi, yaa volumenya tidak akan sebanyak motor sport 150cc. Contoh, kalau kita berkaca pada motor sport fairing 250cc, tentu impresi berkendara dalam kota yang kental dengan kemacetan akan membuat motor ini tidak senyaman motor sport naked dengan kubikasi 150cc. Paling gak banyak, bisa dihitung aja Bikers yang hari-hari nyemplak motor sport fairing 250cc.

Selain Faktor harga yang 1 : 2 antara motor sport 150cc dengan motor 250cc, lingkungan atau jalan yang dilalui entah lebih dominan dalam kota atau mungkin khusus dipakai Sabtu minggu buat turing dengan komunitas, motor sport 250cc agak stagnan pergerakannya di pasaran. Serta biaya perawatan yang tidak sedikit dibandingkan dengan motor sport 150cc, mengakibatkan pangsa pasar motor sport seperempat liter ini tidak berkembang maksimal. Ini kita belum bicara mengenai pasar sport yang diambil oleh Matic lagi ya Guys, murni baru semata analisa antar motor sportnya aja.

Kemudian, tahun 2018 ini bakalan seru menurut DJB. Tahun ini bakalan ada beberapa varian baru dari motor sport 150cc yang akan hadir, baik itu naked sport, maupun segmen sport lainnya jika tidak ada perubahan rencana. Tercatat bakalan ada Suzuki Bandit 150 yang foto motor test nya udah wara wiri dijalanan dan diabadikan oleh beberapa saksi mata. Plus nanti bakalan ada dari Honda, yang kabarnya juga udah menyiapkan amunisi baru untuk terus mempertahankan singasana rajanya motor Sport tanah air. Bahkan udah mulai sayup-sayup terdengar kode motornya yang disebut-sebut sebagai K15M atay K15N oleh Blogger sepuh tanah air, wkkwkwkwwk

Baca juga http://djbikers.com/2018/07/05/beredar-kode-honda-k84f-crf150l-supermotokah-ini/

Nah, trend pasar Motor sport memang diakui bakal tergerus terus oleh Skutik, bahkan tidak jarang oleh Skutik yang semerek. Selain karena faktor kenyamanan, tentu faktor efisiensi BBM juga jadi pertimbangan. Makanya saat ini, segmen Skutik kita gak perlu pusing, pabrikan aja makin semangat melihat pertumbuhan penjualan motor tanpa gigi ini, tak heran Skutik bakal terus merajai pangsa pasar motor tanah air. Yang jadi PR besar bagi pabrikan tak lain bagaimana caranya agar pasar Sport ini gak habis total. Pendek kata, pabrikan bakal tetap berusaha memberikan produk motor dengan “Value” yang tertinggi bagi konsumen. Sekalipun memang penjualan motor sport hanya menyumbang kurang dari 25% penjualan motor bagi masing-masing pabrikan.

Arti motor Sport bagi DJB

Seperti yang pernah DJB bahas di artikel bulan lalu, DJB pernah gonta-ganti pasangan, eh gonta ganti motor maksudnya sejak perdana main motor 19 tahun silam. Dari perdana belajar bawa Vespa, lalu pindah ke motor bebek dua tak dan empat tak, Skutik 110cc, hingga nyemplak motor sport sampai saat ini. DJB pribadi dapat menyimpulkan, motor sport adalah The Real Motorcycle bagi DJB.

Motor sport ibaratnya jati diri, nah bagi lelaki, naik motor sport tentu mengharuskan lelaki tersebut mampu memaksimalkan potensi dirinya. “Kok gitu DJB?” Iya, naik motor mungkin hampir semua orang bisa aja naik motor, namun menunggangi motor sport buat DJB adalah sebuah kesenangan yang tidak akan bisa kalian dapat dari motor bebek maupun matic. “Kesenangan yang bagaimana DJB?” Kesenangan yang hanya dapat dirasakan oleh para lelaki yang doyan akan aspek performa seperti akselerasi dan top speed, sensasi mainin kopling dan tuas transmisi saat ngebut, serta tak lupa kemiringan menikung lawan di tikungan (bukan menikung pacar kawan ya Guys), DJB cukup sekali nikung pacar orang dah zaman baru tamat sekolah dulu, wkwkwkwk.

Bicara mengenai The Real Motorcycle, DJB punya feeling tahun 2018 ini, adalah puncaknya persaingan motor sport 150cc di tanah air. Jika semua sesuai rencana, jika bener nih bakalan ada produk motor sport 150cc terbaru yang entah itu naked sport atau dual purpose (termasuk supermoto) bike juga, tahun 2018 ini kita bakal punya banyak pilihan motor sport di pasaran. Yaa seperti yang udah DJB bikin di artikel bulan kemarin, mulai bulan Juli ini bakalan ada beberapa produk motor baru berdatangan, pas lah berarti tebakan DJB, wkwkwkwkwk.

Baca juga http://djbikers.com/2018/06/21/ada-bau-bau-produk-motor-baru-lagi-bulan-depan-motor-sport-barukah/

Tergantung pihak penjual (dealer dan jaringannya) lagi, siap untuk berkompetisi atau malah bakal didominasi oleh lawan? Karena konsumen dihadapkan pada banyak pilihan, otomatis persaingan tidak semata soal produk siapa yang lebih baik, melainkan udah bergeser ke layanan siapa yang terbaik.

Penutup

Jika kita bicara motor, ada tiga segmen umum yakni bebek, skutik dan sport. Dari ketiganya, DJB pribadi beranggapan, naik motor sport jauh lebih keren baik bagi kawula muda, maupun bagi yang pernah muda, wkwkwkwk. Dan bicara motor sport, kita kerucutkan saja pada dua segmen yakni motor sport batangan (Naked) serta motor sport Fairing. Nah, antara keduanya, kita sama-sama ketahui, motor sport Naked memegang kunci pangsa pasar motor laki di tanah air. Karena jika dibandingkan antara harga, ergonomi dan desain, lebih banyak Bikers bakal setuju kalau motor sport Naked adalah The Real Motorsport. Bukan berarti motor fairing gak bagus, bukan. Namun motor fairing secara harga yang lebih mahal kisaran 5 s/d 7 jutaan dari motor sport naked, menyebabkan populasinya juga gak bakal mampu mengalahkan motor sport naked. Setidaknya begitu yang DJB amati dalam beberapa tahun terakhir.

Sabar ya Guys, bagi kalian yang masih ragu mau beli motor apa untuk menunjang aktivitas kalian entah itu bagi kalian yang kuliah maupun yang udah bekerja, mending nunggu dulu beberapa bulan kedepan, kali aja kalian ada jodoh dengan motor sport terbaru kelak. Percaya deh sama DJB, kalian naik motor sport itu sensasinya beda. Karena yang namanya lelaki itu butuh sensasi, lelaki jangan cuma mau praktisnya aja. Kalau kalian pengen awet muda, saran DJB berkendaralah. Dan motor yang memberikan paling banyak kesenangan saat berkendara adalah, motor sport. Kalian bisa mulai dulu dari yang 150cc, nanti kalau udah waktunya, silahkan naik kelas ke yang kubikasinya lebih tinggi.

By: DJBikers

 

Leave a Reply