Polemik knalpot aftermarket (Racing) dan pendapat Blogger senior Om Leopold Sudaryono mengenai konsekuensi hukum bagi motor dengan knalpot aftermarket (Racing) tersebut

Bismillah . . .

Selamat Sore Guys, salam sejahtera bagi kita semua. Menjelang Berbuka puasa, DJB mau share sesuatu yang selama ini DJB yakin pasti menjadi polemik dan dilema bagi para Bikers yakni mengenai Knalpot Racing.

22491890_1880071612309354_188260450818998343_n
Contoh Knalpot Racing pada Honda CBR250RR, ini merupakan CBR250RR terkencang yang pernah DJB jajal lintas provinsi Guys.

DJB tadi membaca artikel di Blognya Om Leopold Sudaryono yang kebetulan menjabarkan secara teknis dan non teknis (termasuk soal konsultasi hukum) mengenai pemakaian knalpot aftermarket (dalam hal ini biasa disebut sebagai knalpot Racing) pada motor harian. Dan tentu saja, DJB juga menambahkan pengalaman DJB dan kolega DJB yang pernah berurusan dengan polisi saat terkena razia dan apesnya motornya menggunakan knalpot aftermarket. Sebelumnya, kalian bisa juga mengunjungi Blognya Om Leopold untuk tahu lebih lanjut mengenai analisa dan pendapat beliau soal berbagai topik khas para Bikers.

Baca juga: https://7leopold7.com/2018/05/23/konsultasi-hukum-apakah-knalpot-racing-bisa-ditilang-tanpa-menggunakan-alat-pemeriksaan/

Nah, di dalam prakteknya di lapangan, Kalian pasti tahu atau minimal pernah mendengar bahwasanya saat razia, banyak motor dengan knalpot aftermarket yang ditilang oleh polisi. Rupanya, secara hukumnya menurut Om Leopold, hal ini tidak tepat lho Guys. Kenapa? Karena menurut Om Leopold sendiri, ada tata cara alias teknis bagi petugas untuk melakukan tilang, singkatnya kalian bisa baca sendiri artikel beliau Guys. FYI, Om Leopold Sudaryono ini bukan Blogger biasa lho Guys, buat kalian yang belum mengenal beliau, beliau ini merupakan seorang pakar hukum yang juga Bikers tulen dengan deretan motor besar (Moge) yang hilir mudik di banyak kesempatan baik di dalam maupun luar negeri. DJB pribadi beruntung dapat berteman dengan beliau, setidaknya di media sosial. Btw, Kalian juga dapat membaca profil dan lebih banyak artikel beliau di Blog 7Leopold.com ya Guys.

wp-15270701102831294183183.png
Profil FB Om Leopold, ngeri Guys, Moge udah jadi mainannya.

Nah, dari artikel yang beliau bagikan di blognya beliau, DJB pribadi merasa mendapat pencerahan mengenai pemakaian knalpot aftermarket ini. Walau sejak dulu DJB pribadi belum pernah berurusan dengan polisi pas razia saat berkendara dengan motor dengan knalpot Racing, setidaknya artikel beliau ini mampu membuka mata kita mengenai bagaimana sih seharusnya kita menyikapi kondisi razia ketika lagi berkendara dengan motor berknalpot Racing. Berikut DJB sadur dari Blog beliau pas bagian Knalpot aftermarket, silahkan disimak baik-baik ya Guys;

Penggunaan knalpot yang aftermarket tidak masuk kategori modifikasi illegal asalkan knalpot aftermarket tidak melewati ambang batas kebisingan yang sudah diatur KLH.

Acuan yang bisa dipakai adalah Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No 07/2009 tentang Ambang Batas Kebisingan Kendaraan Bermotor Tipe Baru tertanggal 6 April 2009.

Screen Shot 2018-05-23 at 12.36.10 PM

Screen Shot 2018-05-23 at 12.40.45 PM

Peraturan Menteri ini cukup detail menjelaskan spesifikasi alat yg digunakan serta metode pemeriksaan. Di Australia pemeriksaan dilakukan pada RPM 5000. Di Indonesia uji dilakukan secara dinamis dimana motor diminta lewat pada kecepatan 50 km/jam pada gigi 2-3.

ALASAN KEDUA: KNALPOT BERISIK DAN TIDAK LAYAK JALAN

Aturan yang dipakai penegak hukum adalah “UU Lalu Lintas mengatur kendaraaan harus laik jalan termasuk knalpot.” (Pasal 285 ayat 1, UU 22/2009)

Nahhh sekarang apa ukurannya berisik/laik jalan bagi knalpot? Untuk menentukan laik jalan atau tidak, penegak hukum wajib mengikuti

PP No 80/2012 tentang Tata Cara Pemeriksaan Kendaraan bermotor di Jalan dan Penindakan Pelanggaran Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Peraturan Pemerintah ini mengatur tentang tata cara alias SOP dalam memeriksa dan menindak alias menilang di jalan. Coba dibaca baik2 lagi 2 kalimat di atas.

Dimana:

(1) Petugas Pemeriksa wajib menggunakan peralatan pemeriksaan yang dapat dipindah-pindahkan sesuai obyek yang akan diperiksa dalam melakukan pemeriksaan (Pasal 17).

Ingat ya WAJIB MENGGUNAKAN alat uji periksa kebisingan.

Fullscreen capture 1262014 25828 AM

Kalau sekarang ini prakteknya langsung tilang bagaimana mas?

Petugas di lapangan bisa saja mengenakan tilang, tapi jika tanpa alat uji, itu melanggar perundang-undangan yang SPESIFIK MENGATUR TATA CARA PEMERIKSAAN DAN PENINDAKAN.

Mengapa pemerintah mengatur tata cara ini? AGAR TIDAK TERJADI PENYIMPANGAN DI JALAN.

Decibel meter atau alat uji kebisingan saat ini di pasaran sudah bisa dibeli dengan harga Rp. 1.5 juta. Mungkin kalau ada product China bisa lebih murah. Pembelian alat ini sebagai perlengkapan standard razia di jalan raya harganya tidak mahal untuk ukuran anggaran tahunan Operasi Zebra/Simpatik/Patuh yang di tingkat Polres (kabupaten) bisa mencapai 190 juta rupiah (sumber data: Rengiat 2017 Satker Polres). Anggaran pada Polresta atau Polrestabes akan lebih besar. Jikapun perlengkapan ini tidak dimiliki, petugas bisa bekerjasama dengan tim Kantor Lingkungan Hidup yang ada di tiap kota/kabupaten.

Kewajiban penggunaan alat periksa ini penting, agar penindakan memiliki dasar pelanggaran yang jelas. Kita tidak bisa menyatakan sebuah kendaraan melanggar batas emisi gas buang berdasarkan perkiraan visual. Hal yang sama dengan batas kebisingan.

KESIMPULAN:

Penggunaan alat uji kebisingan merupakan persyaratan dalam melakukan penindakan pelanggaran (tilang) knalpot aftermarket. Ini sudah diatur secara spesifik dan jelas dalam PP No 80/2012.

Petugas wajib menggunakan alat ini dengan beberapa pertimbangan:

  1. Kepatuhan terhadap aturan hukum
  2. Menghindari penyalahgunaan wewenang yang mencederai nama baik POLRI dan rasa keadilan di masyarakat

Solusi:

  1. Pengadaan alat periksa kebisingan/decibel meter sebagai perlengkapan standard operasi lantas. Harganya di kitaran 1.5 juta rupiah, untuk tingkat Polres masih sangat dimungkinkan. Biker yang merasa memiliki knalpot aftermarket dengan harga cukup signifikan ada baiknya juga melengkapi diri.
  2. Pengaturan knalpot aftermarket dengan di SNI kan. Ini demi kepastian hukum. Juga ya ampunnn masih banyak yg knalpot aftermarket yang asal cempreng berisik doang.

Jadi kesimpulannya, kalian mesti paham teknis untuk diberikannya tilang pada motor kalian jika seandainya terkena razia dan gak bisa mutar arah buat cari aman. Intinya memang secara hukumnya, polisi harus ada alat pengukur kebisingan saat razia, dan disitulah baru jatuhnya tilang sudah tepat secara hukumnya kepada para pelanggar lalu lintas dengan kendaraan motor berknalpot aftermarket. Contoh alat pengukur kebisingan ada banyak sih di Internet, kalian juga bisa beli sendiri. Adapun untuk pengguna smartphone android, ada juga aplikasi pengukur kebisingan, tapi tentu hasil pengukuran belum tentu bisa sevalid atau diukur dengan alat desibel meter beneran. Berikut contoh alatnya Guys, harganya gak sampai sejuta kok, kali aja kalian minat kan. Wkwkwkwk

Alat_Ukur_Kebisingan_Suara___Digital_Sound_Level_DB_Meter_.jpg
Decibel meter. Sumber: Bukalapak

Dan berikut contoh tampilan aplikasi android Decibel meter Guys:

images (6).jpg
Decibel meter. Sumber: Google Play

Pendapat DJB.

Menurut pendapat DJB pribadi, ini kembali kepada kita semua Guys. Yakni seberapa penting knalpot racing/ aftermarket ini bagi kita. Artinya, ini murni pilihan, kita bisa saja beli motor mahal termasuk beli knalpot aftermarket asli dan tentunya branded (impor punya) Guys. Namun seberapa urgent dan mendesakkah kita dengan knalpot racing tersebut.

DJB punya kolega atau lebih tepatnya salah seorang Pelanggan di kantor DJB yang punya motor sport terbaik di Indonesia, All New Honda CBR250RR. Sebut saja namanya Bro YH. Jadi bro YH ini begitu selesai ganti knalpot motornya di dealer DJB, langsung pulang ke rumahnya. Apesnya, gak jauh dari kantor DJB lagi ada razia. Nah, bro YH ini kena tilang, dengan alasan kesalahan karena motornya menggunakan knalpot Racing. Apes, memang. Namun memang suara knalpotnya bukan main Guys, berisik. DJB pernah mengukur dengan memakai aplikasi Decibel meter di HPnya DJB, dan memang intensitas suara output knalpotnya sendiri tercatat segini

img-20180111-wa0003-625722081.jpg
Ini diukur dengan menggunakan aplikasi Decibel meter di HP DJB, mungkin tolerasni hasil pengukuran beda dikit aja dengan alat decibel meter sih.

Nah, hasil pengukuran di HP menunjukkan angka 81 db, alias beda dikit dari batas ambang maksimal emisi suara knalpot. Nah, kalau diukur pakai alat, bisa jadi sih hasilnya beda. Tapi yaa, semua kembali kepada kita juga sebagai pemilik/ pemakai motornya sendiri Guys.

Kesimpulan. Knalpot aftermarket, racing, bobok, atau apapun sebutannya punya konsekuensi tersendiri. Pendek kata, knalpot racing ini bikin repot pada momennya sendiri. Anggaplah pas apes kalian jumpa razia dan mentok gak bisa menghindar, otomatis kalian bakal lebih lama berurusan dengan polisi. Misalnya kalian lagi buru-buru nih, Riding ngebut dikit trus mentor jumpa razia. Nah, sudah dapat dipastikan, knalpot motor kalian bakal jadi masalah. Ujungnya ya bayar tilang kan. Masih mending motor gak ditahan dan knalpot disita atau dipotong gitu, sempat dipotong, wah bakal nangis kalian tapi air matanya gak jatuh keluar melainkan kedalaman. Wkwkwkwkw

DJB pribadi sih lihat momen kalau misalnya harus Riding dengan motor berknalpot Racing, yaa kalau dalam kota sih cukup sediain waktu lebih buat menempuh hidup baru, eeh buat menempuh jalan tikus yang gak banyak polisinya. Suka repot kalau razia dan motor harus tertahan, yaa mau debat pun kadang gak selalu berjalan mulus, mending cari aman aja dengan menempuh rute alternatif atau sekalian aja gak pakai motor tersebut. DJB ogah repot Guys, lagian sayang uang keluar buat bayar tilang, mending dibeliin ke pertamax bisa dapat tiga tangki full untuk si-Blackie atau CB150R StreetFire 2014 milik DJB. DJB mah bahagia gak perlu repot, setangki penuh pertamax aja udah cukup buat DJB menikmati hidup sebagai Bikers. 😋

Belum lagi secara aspek sosial, knalpot racing ini juga mengganggu bagi banyak orang, terutama bagi yang tinggal di komplek perumahan padat penduduk, atau di perkampungan yang masih kental dengan nilai-nilai ketimuran.

Ini belum jika ditilik dari aspek teknis motornya sendiri. Kenapa, knalpot racing ini udah menyalahi prosedur dari ketentuan mengenai garansi motor. Ada poin yang mengatur modifikasi dapat menyebabkan gugurnya garansi pada motor baru, dan tentu saja salah satu contoh modifikasi adalah penggantian knalpot.

img-20180523-wa0042-1188396410.jpg
Pasal 4 Syarat dan Ketentuan Garansi, poin d mengatur jelas hal ini Guys

DJB lebih menyikapi hal ini secara teknis motornya sih Guys. Kenapa, karena kalian mesti cari aman dengan motor kalian sendiri, terutama dengan spek teknisnya. Motor harian ya tetap saja motor harian, dan hal ini akan berhubungan dengan kenyamanan berkendara dengan motornya sendiri. Knalpot racing tentu output suaranya lebih cocok saat berpacu di sirkuit, di jalanan harian mah lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya. Knalpot Racing aja di motor standar mah kurang ampuh buat naikin adrenalin menurut DJB, mending kalau kalian juga porting polish atau ganti Ecu Racing dan upgrade bagian lain buat menunjang performa motor. Tapi ya biayanya bakalan lebih mahal ketimbang harga beli motornya.

Selain itu, secara non teknis, knalpot Racing kurang cocok buat harian. Efek sampingnya gak bagus buat keamanan dan keselamatan kalian saat berkendara. Contoh nih, saat kalian berkendara di jalanan menuju ke kantor atau ke kampus. Knalpot racing tentu enak digeber, dan sudah barang tentu bikin jiwa gak bisa adem saja saat jumpa lawan “geber” di jalan. Pasti setidaknya ada hasrat untuk lebih kencang ketimbang mereka, baik saat start ataupun melaju menuju perempatan berikutnya. DJB pribadi mah doyan yang beginian, jangankan kalah, draw aja DJB ogah kalau jumpa yang beginian di jalan. Tapi ya, DJB gak bakal nyerang jika gak diusik duluan. DJB mah Bikers peace keeper. Dijalan raya gak juga doyan ngebut atau balapan gak jelas, mending buat sekedar nikung mereng-mereng menjelang sampai di kantor. Lumayan buat asah dengkul atau setidaknya tapak sepatu. Wkwkwkwkw

Udah dua kan, satu kondisi motornya terutama bagian mesin yang cepat atau lambat gak bakal seawet motor dengan knalpot standar, satu lagi efek saat berkendara di jalan jumpa lawan yang mirip kondisinya. Bahaya mengancam Guys, makanya mending banyakin sabar kalau jalan naik motor.

By: DJBikers

One thought on “Polemik knalpot aftermarket (Racing) dan pendapat Blogger senior Om Leopold Sudaryono mengenai konsekuensi hukum bagi motor dengan knalpot aftermarket (Racing) tersebut

Leave a Reply