(Testimoni) Sunmori naik BeAT itu sesuatu banget

Bismillah…
Selamat siang Gaeeesss, salam sejahtera bagi kita semua. Well, udah senin lagi nih, gak berasa kemarin ada libur dua hari, sekarang udah sirna berlalu pergi, wkwkwkwk.
Btw, kemarin DJB menyempatkan diri buat solo touring, sunmori gitu ceritanya. Namun jika biasanya DJB riding itu naik motor sport, kemarin iseng jajal naik motor 10 juta umat yakni Honda BeAT. Dan jadilah akhirnya sunmori kemarin itu ceritanya beda, menempuh trek jalanan layaknya sunmori naik motor sport, tapi dengan segala plus minus dan ceritanya sendiri.

DJB bareng Honda BeAT eSP temen sunmori kemarin

Oke, sekarang kita bahas dulu nih plus minusnya, seperti apa pengalaman DJB sunmori kemarin melewati trek Malalak dengan nyemplak motor Matic favorit bangsa Indonesia, ini dia ulasannya…

Rute
Kemarin itu DJB sengaja, udah lama gak sunmori, akhirnya kemarin DJB langsung cuss dari rumah dan menuju ke Bukittinggi, sebuah kota terindah di utara Ranah Minang tercinta, indahnya berkat kamu sih, iya kamu…, wkwkwkwk.
Nah, rutenya sekitar 100km dari rumah. Jarak yang ideal buat riding jika menggunakan motor sport, tapi DJB penasaran nih, kalau diganti pakai motor Matic, kira-kira gimana ya sensasinya.
Nah. rutenya sih gak terlalu jauh sebenernya. Namun DJB memilih melewati rute favorit yang menjadi kesukaan para anak sunmori Sumatera Barat yakni trek Malalak. Sebuah trek yang terletak di kecamatan Malalak, Kabupaten Agam. Trek ini merupakan jalan alternatif yang menghubungkan kota Padang menuju Bukittinggi, namun dengan jarak yang berbeda sekitar 15km lebih jauh dari rute aslinya melewati kota Padang Panjang.

Spot foto ciri khas Malalak, jarang kosong soalnya kecuali kalau tengah malam

Trek jalan
Jalan yang DJB lalui ini aslinya bervariasi, ada trek lurus, dan ada jalan menikung. Tapi pas udah masuk ke area Malalak, kita disajikan rute menikung sekitar 10km non stop, disertai tanjakan dan turunan yang bener-bener menggoda iman saat berkendara disini. Kondisi jalan juga relatif bagus, tidak terlalu lebar sih, tapi masih cukup nyaman dilintasi walau di beberapa titik terdapat penyempitan jalan dan kondisi aspal yang tidak rata. Plus cuaca, cuaca seringkali jadi musuh besar kalau udah sampai di Malalak. Kabut tepatnya, karena terletak di kawasan tinggi, cuaca berkabut akan menaungi kita saat melintasi kawasan Malalak. Beda lagi kalau seandainya hujan, jelas kondisi jalan bakalan makin berat karena licin dan minim jarak pandang.

Rute perjalanan DJB pas sunmori kemarin, kali dua gaeeess karena Pulang Pergi

Spot asyik
Nah, sunmori itu kalau buat DJB sih soal menikmati dan mensyukuri waktu yang Tuhan beri kepada kita. Bicara sunmori, tentu panorama alam menjadi salah satu alasan khusus DJB rela berkendara capek-capek gini. Dan di Malalak, kita dapat melihat banyak view alam yang cukup menarik buat dipandangi, apalagi nih, jika sambil memboncengin gebetan tersayang, pasti bakal makin syahdu, wkwkwkwk. Tercatat DJB beberapa kali berhenti hanya demi mengambil momen foto dan video, sembari menghirup udara segar khas dataran tinggi yang bersih dari debu dan polusi serta kemunafikan ala perkotaan, wkwkwkwk.

Panorama alam Ranah Minang dari ketinggian Malalak

Sunmori naik BeAT itu sesuatu
Nah, ini bagian klimaksnya. Sunmori itu sendiri buat DJB adalah sebuah aktivitas yang sangat menarik dan menyenangkan. Olahraga ringanlah menurut DJB, sekalian menikmati hidup dengan cara yang simpel tapi berkah. Dan karena judulnya adalah Sunmori naik BeAT, DJB bisa menemukan dan memaparkan fakta, Sunmori naik BeAT itu bener-bener penuh cerita. Seperti apa, nah ini dia rinciannya.
Konsumsi Bahan Bakar
Nah, melintasi trek Malalak kemarin, DJB total menempuh jarak sejauh 195km dan total menghabiskan BBM sebanyak 3,74L. Jarak ini DJB dapat lewat perjalanan berangkat dan pulang dengan melalui rute yang sama yakni melewati Malalak Kabupaten Agam. Nah jika kita hitung nih, artinya untuk 1L BBM jenis pertamax yang DJB isi ke tangki BeAT kemarin, itu dapat menempuh jarak sejauh 52,1km. Yang artinya, DJB dengan bobot tubuh 80kg, masih dapat meraih angka 52,1km/L, masih tergolong irit mengingat, rute yang DJB lalui bukanlah jalan kota melainkan rute luar kota yang dipenuhi oleh jalan tanjakan dan turunan.
Well, asli nampol sih kalau soal irit-iritan. Jalannya itu lho, siap ketemu tanjakan, eh ketemu tikungan lalu nanjak lagi, bener-bener melenakan treknya.

Struk Pengisian BBM jenis Pertamax pada sunmori DJB kemarin, cuma habis 3,74L gaeees, iritnya emang kebangetan kalau naik BeAT


Performa
Dan ini yang menarik, nyemplak BeAT itu seru. Udah irit, motornya enteng, dan di trek lurus pun juga terbilang asyik terutama jalan yang mendatar. Masih cukuplah buat mendahului kendaraan lain walau top speed mentok di angka dobel digit.
Cuma ya itu, dengan kondisi standar, skutik entry level 110cc seperti BeAT emang kurang gigit pas ketemu tanjakan bagi rider dengan postur layaknya DJB yang punya bobot 80kg, wkwkwkwk. Bagi kalian yang kurang puas di bagian ini, bisa aja sih mengupgrade motor kalian dengan memasang beberapa piranti pendongkrak tenaga biar gak ketinggalan pas lagi riding rame-rame. Opsi sih ada produk BRT yang udah cukup lama dikenal oleh para tuner motor yang doyan mengoprek komponen bawaan motor harian agar lebih sedap dikendarai untuk kondisi touring gitu.

Contoh part Juken Racing Turbo produk BRT yang dapat diaplikasikan untuk Honda BeAT

Well, sunmori kadang memang mengasyikkan. Gak perlu harus naik moge ataupun nongrong di kafe ternama di setiap kota yang kita lalui. Kadang demi nongrong baik sendiri maupun bareng geng kalian, sunmori bisa menjadi aktivitas seru yang tidak akan membosankan terlebih jika berganti-ganti rute dan tujuan. DJB kemarin boleh dibilang hanya demi kopi, nongkrong sambil ngobrol asyik dengan relasi DJB di luar kota, silaturahmi sembari melemesin pinggang yang sering kaku karena kebanyakan duduk manis depan laptop saban hari.
Ada juga sih yang kadang sunmori sambil ajak keluarga maupun gebetan/pacar. Yaa masing-masinglah alasan dan motivasinya. Namun buat DJB, sunmori itu lebih dari sekedar riding minggu pagi. Dan sunmori akan menjadi penuh arti bila kita iringi dengan hal-hal berfaedah seperti halnya menjalin silaturahmi.

Segelas Kopi hangat menanti DJB di ujung perjalanan kemarin siang

Dan kesimpulannya, sunmori naik BeAT itu emang sesuatu banget. Biasanya riding 200km itu habisin setidaknya 7-8 liter pertamax kalau naik motor Sport. Maklum bisa ngebut sampai tiga digit pas ketemu trek yang memungkinkan. Tapi dengan BeAT, cukup dengan 3,7 liter dengan top speed secukupnya, maklum matic standar tingting. Dan alhasil kemarin DJB dapat berkelana keluar kota sambil silaturahmi bareng relasi tercinta.
Lagian Indonesia ini indah gaeees, rugi banget kalau minggu pagi kita cuma bobok manis di kasur, ih gak banget deh kalau buat DJB, wkwkwkwk.
Nah, kalian punya pengalaman sunmori yang seru, monggo share di kolom komentar ya gaeeesss…
By: DJBikers

Leave a Reply